VIVAnews - Warga di bantaran sungai di wilayah Kediri diminta mewaspadai ancaman banjir lahar hujan paska meletusnya Gunung Kelud pada Kamis malam.
"Bahaya sekunder inilah yang sekarang harus diwaspadai terutama warga yang tinggal di bantaran sungai dekat Gunung Kelud," kata Prof Sudibyakto, ketua tim manajemen bencana letusan Gunung Kelud UGM, Sabtu 15 Februari 2014.
Berdasarkan kajian cepat yang dilakukan Pusat Studi Bencana UGM, Fakultas Geografi dan Magister Manajemen Bencana, dari dampak meletusnya Kelud diketahui ada 18 sungai yang berpotensi bahaya sekunder lahar.
"Padahal ada 28 desa yang dilewati oleh sungai-sungai tersebut. Sementara baru 8 desa yang sudah memiliki bangunan pengendali sedimen sebagai antisipasi banjir lahar hujan," jelas Dr Djati Mardiatno, Kepala Pusat Studi Bencana UGM.
Oleh karena itu, penanganan manajemen bencana bagi pengungsi harus ditangani dengan baik. "Jangan sampai paska meletus, warga akan terkena masalah baru lagi. Sebaiknya otoritas setempat dapat lebih tanggap dan cepat bereaksi ke depan khususnya bahaya banjir lahar," katanya.
Sementara itu dari hasil penelitian tim tersebut diketahui bahwa material yang jatuh dari lontaran Gunung Kelud bervariasi ukurannya. "Ada ukuran boulder, kerikil, pasir dan debu. Sedangkan yang jatuh di Jogja adalah debu," kata dia.
Terkait dengan limpahan hujan abu yang cukup besar di DI Yogyakarta, Djati menambahkan pada dasarnya langkah tanggap darurat bencana yang dikeluarkan Pemprov hendaknya dipatuhi oleh masyarakat.
Laporan: Ochi April/Yogyakarta
15 Feb, 2014
-
Source: http://nasional.news.viva.co.id/news/read/481632-ancaman-baru-kelud--banjir-lahar
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com DOWNLOAD:
No comments:
Post a Comment