"Salah satu permasalahan JKN adalah persepsi masyarakat yang menyamakan program ini dengan berobat gratis," ujar Sekretaris Jenderal IAKMI Dedi Supratman, S.KM.,M.KM pada detikHealth usai acara Forum Diskusi Implementasi BPJS Kesehatan: Permasalahan dan Solusinya di Gedung Nusantara 1, Kompleks DPR/MPR, Senayan, Jakarta Selatan, dan ditulis pada Jumat (28/2/2014).
Padahal berdasarkan Undang-undang nomor 40 tahun 2004 tentang Jaminan Kesehatan Nasional, yang termasuk dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) adalah upaya promotif, preventif dan rehabilitatif. Bukan hanya kuratif atau pengobatan saja.
Dedi memaparkan bahwa dengan membeludaknya peserta JKN, fungsi promotif dan preventif di fasilitas kesehatan hilang dengan sendirinya. Hal itu diakibatkan oleh sangat sedikitnya waktu konseling yang diberikan dokter kepada pasien. Saking banyaknya pasien, dokter pun kadang terlalu fokus untuk hanya meresep obat saja.
"Padahal kan harusnya ada konseling. Sebagai contoh, pasien darah tinggi tidak hanya diperiksa tekanan darahnya. Namun juga harus diberi tahu makanan apa yang harus dihindari, kegiatan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, hal-hal seperti itulah," lanjut Dedi.
Hal senada juga diungkapkan drg Usman Sumantri, M.Sc dari Kementerian Kesehatan. Menurutnya, dokter harus mengubah pola pandang dan perilaku dari mengobati orang sakit menjadi mencegah orang sakit. Ia pun menyoroti beberapa kasus yang terjadi di fasilitas kesehatan primer seperti puskesmas dan klinik.
"Kalau ada satu daerah warganya sering berobat penyakit, misalnya demam berdarah, seharusnya dokter di faskes primer mencari tahu kenapa hal itu bisa terjadi, lalu berupaya untuk mencegah," lanjut Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan Kemenkes tersebut.
Masalah utama terletak pada alokasi dana di banyak fasilitas kesehatan. Berdasarkan pantauan Kemenkes, sebagian besar dana tersebut dipakai untuk kegiatan kuratif. Hal-hal tersebut meliputi pembelian obat, pengadaan alat kesehatan dan biaya operasional rumah sakit atau puskesmas.
"Padahal pencegahan sejak dini lebih penting. Kanker contohnya, hampir 30 persen jenis kanker bisa diobati jika dideteksi dini. Ini yang termasuk kegiatan preventif," pungkas Usman.
(vit/vta)
Ingin Mendapatkan Rp 500,000 dari detikHealth ? Ceritakan Pengalaman Dietmu di Sini
28 Feb, 2014
-
Source: http://detik.feedsportal.com/c/33613/f/656082/s/379ed8a8/l/0Lhealth0Bdetik0N0Cread0C20A140C0A20C280C0A7350A10C2510A8930C7630Cpeserta0Ejkn0Emembeludak0Ewaktu0Ekonseling0Epasien0Eke0Edokter0Eberkurang/story01.htm
--
Manage subscription | Powered by rssforward.com DOWNLOAD:
No comments:
Post a Comment